Featured

Monday, September 12, 2005

Kecelakaan Mandala, Overload atau Ponsel ?

Baru-baru ini, Negara kita tertimpa beberapa kali musibah kecelakaan Pesawat Udara dan Helikopter, termasuk yang cukup mengenaskan adalah yang terjadi di sekitar Lapangan Udara Polonia Medan, sehingga jatuh korban meninggal dan luka berat pada hampir seluruh penumpangnya dan penduduk sekitar jatuhnya pesawat.

Penyebab kejadian masih belum "diketahui" secara pasti hingga saat ini. Namun demikian beberapa pakar dan wartawan menyampaikan beberapa prediksi kemungkinan terjadinya kecelakaan disebabkan oleh kelebihan muatan. Jadi, pada saat pesawat melakukan take-off seluruh mesin pesawat tidak mampu mengangkat badan pesawat secara optimal, sehingga mengakibatkan badan pesawat sempat menyenggol pagar pembatas, badan pesawat patah, terbakar dan akhirnya seluruh badan pesawat jatuh terhempas ke tanah.

Analisa di atas cukup masuk akal, tetapi masih perlu diselidiki lebih teliti dan mari kita tunggu hasil penyelidikan oleh pihak berwenang, mudah-mudahan tidak ada yang disembunyikan.

Selain di atas, ada juga yang memperkirakan kecelakaan bisa juga disebabkan karena terganggunya sistem komunikasi dan sistem lainnya dari pesawat, karena gangguan yang berasal dari sinyal Hand Phone/telepon genggam atau ponsel.
Menurut sumber informasi yang didapat dari ASRS (Aviation Safety Reporting System) bahwa ponsel mempunyai kontribusi yang besar terhadap keselamatan penerbangan. Sudah banyak kasus kecelakaan pesawat terbang yang terjadi diakibatkan oleh ponsel.
Kita pasti akan sangat heran jika benar bahwa kecelakaan tersebut HANYA disebabkan oleh sinyal ponsel, karena seakan-akan keselamatan penerbangan sangat tergantung kepada "kebaikan" dan "kesadaran" para pemilik ponsel ?. Hebat benar ponsel kita ini..!!.
Kita semua tahu dan menyadari bahwa tidaklah mudah mengharapkan para penumpang untuk selalu mematuhi aturan apapun termasuk mematikan ponsel ketika berada dalam pesawat. Apalagi, ada juga kemungkinan tidak mematikannya karena lupa, bosan karena perjalanan jauh atau sengaja men-set nya pada mode "silent" ?. Kejadian ini tidak saja di Indonesia, tetapi juga terjadi di banyak negara lain.
Jikalau itu benar, pemerintah harus memaksa perusahaan penerbangan untuk mengganti semua pesawatnya dengan pesawat yang lebih aman, paling tidak - aman dari sinyal-sinyal "kotor" semacam itu seperti yang di jelaskan dalam Liputan Khusus Kompas, 8 September 2005. Dalam Laporannya, AW Subarkah, menyatakan bahwa kini sudah ada beberapa pesawat yang menempatkan peralatan khusus sehingga memungkinkan ponsel digunakan. Bahkan notebook dengan fasilitas Wi-Fi (wireless fidelity) bisa melakukan hubungan internet, selain tayangan siaran televisi secara langsung tanpa direkam lebih dulu di darat.
Sanggupkah perusahaan penerbangan Indonesia mencontoh perusahaan sejenis lainnya seperti Singapore Airlines (SIA atau SQ), Qatar Airways dan Korean Air yang telah lebih dulu bekerjasama dengan perusahaan pembuat pesawat seperti Boeing, Lufthansa Technik dan Airbus ??

0 comments:

 

Pojok Kita Design by Insight © 2009